Popular Posts

Friday, October 29, 2010

Mengapa Wanita Karir Inggris Modern Masuk Islam?

Terdapat perubahan ke arah Islam yang cukup signifikan. Diantaranya adalah para wanita Muslimah Inggris modern yang konversi masuk Islam. Agar tidak salah menyikapi perkembangan ini, Nurussalam96 menyajikan berita ini dengan memberikan catatan yang mengingatkan bahwa standar nilai ajaran Islam itu adalah Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang diberitakan dari Rasulullah yang disertakan oleh Nurussalam96 disini agar jalan fikiran dan jalan perasaan mencermati perkembangan pergeseran ke arah Islam ini tidak dilepaskan rujukan standarnya dari Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah. Apabila yang didapati pada laporan ini adanya pergeseran dari memegangi nilai-nilai tradisional budaya (orang-orang Muslim maupun non Muslim) bergeser menjadi modern, terpelajar (dan bahkan kulit putih) yang Muslim maka seyogyanya pergeseran itu ada tindak lajutnya yaitu menuju yang lebih Qur'ani dan mengikuti sunnah Rasulullah bukan sekedar sampai pada piliham yang lebih spiritual dan intelektual telah finish.
Nurussalam96 menampilkan perkembangan itu yang laporan  http://www.dailymail.co.uk/ pada 28 Oktober 2010. Berikut sebagian dari berita itu.
Mengapa sedemikian banyak wanita karir Inggris modern masuk Islam? Adik ipar Tony Blair mengumumkan dirinya masuk Islam akhir pekan lalu. Wartawati Lauren Booth memeluk keimanan itu setelah apa yang ia sebutkan sebagai suatu pengalaman suci di Iran.
 Ia hanyalah satu jumlah angka yang sedang tumbuh dari wanita karir Inggris modern yang melakukan hal yang sama. Di sini, seorang penulis, Eve Ahmed, yang tampil sebagai seorang muslimah sebelum menolak keimanan (tradisionalnya) itu, menggali alasannya mengapa.
Banyak masa kecilku dilalui mencoba melarikan diri dari Islam.
Dilahirkan di London dari ibu orang Inggris dan bapak yang muslim Pakistan, aku dibawa untuk mengikuti keimanan bapak tanpa pertanyaan.
Tetapi secara pribadi aku membenci itu. Pada menit aku meninggalkan rumah menuju ke universitas pada usia 18 th, aku melepaskannya seluruhnya

Sedemikian jauh aku perhatikan, menjadi seorang Muslimah berarti mendengar kata 'Tidak boleh', terus 'Tidak boleh' dan terus 'Tidak boleh'.
Wanita dari latarbelakangku dibatasi dari sebegitu banyak hal yang teman-teman Inggrisku menganggapnya sebagai yang sudah sewajarnya. Sungguh, bagiku tampaknya hampir semua yang menyenangkan itu haram atau terlarang, untuk wanita sepertiku.

Begitu banyak yang sembarangan, aturan-aturannya yang picik, murahan. Tidak boleh siul. Tidak boleh mengulum gula-gula stik. Tidak boleh naik sepeda. Tidak boleh nonton Top of The Pops. Tidak boleh pakai make-up atau pakaian yang menampakkan bentuk tubuh.
Tidak boleh makan di jalan atau meletakkan tanganku di sakuku. Tidak boleh memotong rambutku atau mengecat kukuku. Tidak boleh mengajukan pertanyaan atau balik menjawab. Tidak boleh memelihara anjing untuk kesukaan, (itu tidak suci). Dan tentu tidak boleh duduk di depan laki-laki, jabat tangan dengan mereka, pun juga tidak boleh bertatap pandangan mata dengan mereka.

Prinsip-prinsip dasar hukum ini diterapkan olehku dan oleh bapakku, dengan perhitungan mereka mesti menjadi bagian menyeluruh dari seorang muslimah yang ada.
Sedikit mengherankan, kemudian, secepat aku menjadi cukup dewasa untuk berusaha demi kemerdekaanku, aku menolak seluruh paket (aturan) itu dan untuk kembali ke masa laluku dalam Islam. Setelah segalanya itu, alangkah modernnya, wanita Inggris dibiarkan bebas mau memilih semacam seuatu kehidupan untuk hidup?
Baiklah, cukup banyak, itu muncul, termasuk kejutan yang baru-baru ini masuk Islam, adik ipar Tony Blair, Lauren Booth. Dan sesudah habis masa laluku sendiri, aku mengikuti tren yang berkembang mengagumkan, wanita-wanita Barat memilih untuk masuk Islam.

Penyiar dan wartawati Booth, 43, mengatakan dia sekarang memakai jilbab yang menutup kepala setiap kali dia meninggalkan rumah, shalat lima kali sehari dan mengunjungi masjid setempat 'kapan aku bisa'.
Dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah enam minggu lalu setelah mengunjungi tempat suci Fatima al-Masumeh di kota Qom, dan berkata: "Ini adalah Selasa malam, dan aku duduk dan merasa ini suntikan morfin spiritual, hanya kebahagiaan absolut dan sukacita. "
Sebelum
bangkit kesadarannya di Iran, ia telah menaruh rasa 'simpatik' terhadap Islam dan telah menghabiskan banyak waktu bekerja di Palestina. 'Aku selalu terkesan dengan kekuatan dan ketenangan yang Islam berikan, "katanya.
Betapa, aku penasaran, bisakah wanita ditarik ke suatu agama yang aku merasa ia sudah melindungiku di tempat yang sedemikian berkerendahan (hati) dan penuh ketundukan?
Bagaimana bisa, pengalaman mereka dengan Islam begitu sangat berbeda dengan pengalaman beragamaku ini?
Menurut Kevin Brice dari Swansea University, yang memiliki spesialisasi dalam mempelajari konversi
orang kulit putih masuk Islam, para wanita ini merupakan bagian dari tren menarik.
Dia menjelaskan: "Mereka mencari spiritualitas, arti yang lebih tinggi, dan cenderung untuk menjadi pemikir yang mendalam. Jenis lain dari wanita yang kembalik ke pangkuan Islam adalah apa yang aku sebut "mengkonversi kenyamanan". Mereka menganggap perangkap agama itu untuk menyenangkan suami mereka yang Muslim dan keluarganya, tapi tidak mementingkan datang ke masjid, shalat dan berpuasa. "
Aku
telah berbicara dengan beragam pilihan orang kulit putih Barat yang berusaha untuk memeriksa kembali iman yang telah aku tolak.
Wanita seperti Kristiane Backer, 43 mantan presenter MTV yang berbasis di London yang
telah memimpin jenis gaya hidup Barat yang bebas liberal yang aku rindukan saat remaja, namun siapa yang mengmebalikannya padanya dan memeluk Islam sebagai gantinya. Alasan dia?  'Sesuatu yang berlangsung' pada masyarakat permisif yang aku dambakan telah terbukti menjadi kehampaan yang dangkal.
Titik balik Kristiane terjadi ketika dia janjian bertemu dalam pertemuan singkat dengan mantan pemain kriket Pakistan dan Muslim yaitu Imran Khan pada tahun 1992 pada masa puncak karirnya Kristiane. Khan membawa Kristiane ke Pakistan di mana Kristiane bilang dirinya tiba-tiba tersentuh oleh spirtualitas dan kehangatan warga masyarakat.

Kristiane mengatakan: "Meskipun hubungan kami tidak berlanjut, aku mulai mempelajari iman orang Islam dan akhirnya terkonversi (dalam Islam). Karena sifat pekerjaanku, aku keluar mewawancarai bintang rock, bepergian ke seluruh dunia dan mengikuti setiap tren, namun aku merasa hampa. Sekarang, akhirnya, aku puas karena Islam telah memberikanku tujuan hidup"
"Di Barat, kami
ditekan untuk alasan-alasan yang dangkal, seperti pakaian apa yang mau dipakai. Dalam Islam, semua orang tampak ke tujuan yang lebih tinggi. Semuanya dilakukan untuk menyenangkan Allah. Itu adalah sistem nilai yang berbeda.
'
Betapapun gaya hidupku itu, aku merasa ‘sisi dalam’ yang hampa dan menyadari betapa menjadi bebas rasanya menjadi seorang Muslimah. Untuk mengikuti Tuhan yang Esa membuat hidup lebih murni. Anda tidak mengejar setiap mode.
'
Aku dibesarkan di Jerman dalam keluarga Protestan yang tidak sangat religius. Aku minum dan aku berpesta, tapi aku menyadari bahwa kita membutuhkan amal perbuatan baik sekarang ini sehingga kita memiliki kehidupan alam akhirat yang baik. Kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri."

Untuk sejumlah besar wanita, kontak pertama mereka dengan Islam berasal dari kencan teman lakinya yang Muslim. Lynne Ali, 31, dari Dagenham di Essex, blak-blakan mengaku telah menjadi 'tipikal remaja pesta kerasnya kulit putih'.
Dia berkata: "Aku keluar dan mabuk dengan teman-teman, memakai pakaian ketat dan
kencan dengan laki-laki.
"Aku juga bekerja paruh-waktu sebagai seorang DJ, jadi aku benar-benar dalam adegan klub. Aku digunakan untuk berdoa
sejenak sebagai orang Kristen, tapi aku menggunakan Tuhan sebagai semacam dokter, untuk memperbaiki hal-hal yang ada dalam hidupku. Jika ada yang bertanya, aku mengatakan bahwa, pada umumnya, aku bahagia hidup di jalur cepat. "
Tetapi ketika ia bertemu pacarnya, Zahid, di universitas, sesuatu yang dramatis terjadi.
Dia katakan: "Saudara perempuan Zahid mulai berbicara kepadaku tentang Islam, dan itu seolah-olah segala sesuatu dalam hidupku sedang ditepatkan pada tempatnya. Aku pikir, di bawah itu semua, aku harus mencari sesuatu, dan aku merasa tidak terpenuhi oleh gaya hidup pesta minuman kerasku"
Lynne terkonversi (masuk Islam) pada usia 19. 'Sejak hari itu, aku mulai mengenakan jilbab," dia menjelaskan,' dan aku sekarang tidak pernah menunjukkan rambutku di depan umum. Di rumah, aku berpakaian normalnya pakaian Barat di depan suamiku, tapi tidak pernah di luar rumah"
YouGov survei terbaru menyimpulkan bahwa lebih dari setengah publik Inggris ¬ percaya bahwa Islam menjadi pengaruh negatif yang mendorong ekstremisme, penindasan perempuan dan ketidaksetaraan, orang mungkin bertanya mengapa diantara mereka ada yang memilih arah yang semacam untuk diri mereka sendiri itu.
Namun statistik menunjukkan konversi Islam tidak hanya
sukses cemerlang yang tiba-tiba terjadi dalam waktu singkat dan tak terulang lagi, tetapi adalah perkembangan yang signifikan. Islam dengan segala halnya adalah agama yang berkembang tercepat di dunia, dan pengadopsi dari orang-orang kulit putih merupakan bagian penting dari cerita itu.
'Bukti menunjukkan bahwa rasio
wanita Barat yang konversi kepada (agama) laki-lakinya bisa setinggi 2:1", kata Kevin Brice.
Lebih-lebih lagi, katanya, sering wanita-wanita yang konversi (masuk Islam) ini  ingin menampilkan tanda-tanda keimanan mereka - khususnya jilbab - dimana banyak gadis Muslimah yang dibesarkan dalam keimanan itu memilih untuk tidak.
"Mungkin sebagai akibat dari tindakan ini, yang cenderung menarik perhatian, Muslimah kulit putih sering melaporkan jumlah yang lebih besar diskriminasi terhadap mereka daripada Muslimah dari lahir," tambahnya Brice, yang adalah apa yang terjadi pada Kristiane Backer.
Dia mengatakan: "Di Jerman, ada Islamophobia.
Aku kehilangan pekerjaanku ketika aku konversi (masuk Islam). Ada kampanye Tekanan terhadap aku dengan sindiran tentang semua Muslim mendukung teroris - aku difitnah. Sekarang, aku presenter di NBC Eropa.
"Aku menyebut diriku seorang Muslimah Eropa, yang berbeda dengan Muslim '
dari lahir'. Aku ¬ menikah dengan orang Maroko, tetapi tidak berhasil karena ia menempatkan pembatasan padaku dengan alasan bagaimana dia dibesarkan. Sebagai seorang Muslimah Eropa, aku bertanya akan setiap sesuatu - Aku tidak menerima secara membuta.
"Tapi apa yang
aku sukai adalah keramahan dan kehangatan masyarakat Muslim. London adalah tempat terbaik di Eropa bagi Muslim, ada budaya Islami yang indah di sini, dan aku sangat bahagia"
Untuk beberapa orang yang konversi (masuk Islam), Islam merupakan perayaan nilai-nilai keluarga model lama.
'Beberapa orang tertarik untuk merasakan nilai-nilai rasa memiliki dan nilai-nila kemasyarakatan - yang telah terkikis di Barat, "kata Haifaa Jawad, dosen senior di Universitas Birmingham, yang telah mempelajari fenomena konversi orang kulit putih (masuk Islam).
"Banyak orang, dari semua lapisan masyarakat, meratapi hilangnya dalam masyarakat saat ini
tradisi menghargai orang tua dan wanita, misalnya. Ini adalah nilai-nilai yang termuat dalam Al-Quran, yang umat Islam harus hidup dengannya, "tambahnya Brice.
Nilai-nilai yang seperti inilah yang menarik Camilla Leyland, 32, seorang guru yoga yang tinggal di Cornwall kepada Islam. Seorang single mother sang untuk anak, Inaya, 2, dia konversi (masuk Islam) pada pertengahan usia 20-an karena 'alasan intelektual dan feminis'.
Dia menjelaskan: "Aku tahu orang akan terkejut mendengar kata-kata "feminisme" dan "Islam" dalam napas yang sama, namun pada kenyataannya, ajaran Al-Qur'an memberikan kesetaraan kepada perempuan, dan pada saat agama itu lahir, ajaran ini berjalan menentang masyarakat misoginis (yang membenci akan perempuan).
'Kesalahan besar
yang dibuat orang banyak adalah mengacaukan budaya dengan agama. Ya, ada kebudayaan Muslim yang tidak mengizinkan kebebasan individu wanita, namun ketika aku tumbuh dewasa, aku merasa lebih tertindas oleh masyarakat Barat".
Dia berbicara tentang tekanan terhadap perempuan untuk bertindak seperti orang
laki-laki dengan minum dan berhubungan seks kasual. 'Tidak ada arti yang sebenarnya untuk itu semua. Dalam Islam, jika Anda memulai suatu hubungan, itulah merupakan komitmen niat. "Dibesarkan di Southampton - ayahnya adalah direktur Southampton Institut Pendidikan dan ibunya seorang guru home economics ketertarikan Camilla pada Islam dimulai di sekolah.

Dia pergi ke universitas dan kemudian mengambil gelar Master di bidang Studi Timur Tengah. Tap
i ketika ia tinggal dan bekerja di Suriah ia mendapatkani pencerahan spiritual. Merefleksikan apa yang dia baca di Al-Quran, ia menyadari bahwa ia ingin konversi (masuk Islam).
Keputusannya itu menemui kebingungan berkenaan dengan teman dan keluarga.
'Orang mendapati kesulitan untuk percaya bahwa seorang wanita, berpendidikan, dari kelas menengah kulit putih memilih untuk menjadi Muslimah, "katanya.
Sementara iman Camilla yang ada menjadi kuat, tidak seberapa lama lagi dia mengenakan jilbab di depan umum. Tetapi beberapa
wanita aku ajak bicara untuk mengatakan pakaian Islami secara ketat adalah sesuatu yang mereka menemukan yang memberdayakan dan membebaskan.

Lynne Ali ingat malam itu, ini membekas pada dirinya. "Aku pergi ke pesta ulang tahun ke-21 seorang teman lama di bar", ungkapnya. "Aku berjalan masuk, mengenakan jilbab dan pakaian sederhanaku, dan melihat bagaimana setiap orang yang lain telah begitu banyak sekilaspada tampilan. Mereka mabuk, ngomong nglantur dan menari provokatif.
'Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat kehidupanku sebelumnya dengan penglihatan dari sisi luar, dan aku tahu aku tidak akan kembali untuk itu.
"Aku sangat bersyukur aku menemukan jalan keluarku. Ini adalah nyata bagiku – Aku bahagia shalat lima kali sehari dan ikut dalam kelas (jamaah) di masjid. Aku tidak lagi menjadi budak masyarakat yang rusak dan harapannya"



Nurussalam96 : Tidak hanya seorang muslimm itu tak selayaknya menjadi budak masyarakat yang rusak tetapi budak masyarakat yang tidak rusakpun tidak layak melainkan menjadi hamba Allah saja. Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51/Adz-Dzaariyaat : 56)




وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. 6/Al-An'aam : 116)

Apa yang dijalani Lynne Ali menjadi Muslimah, ia bahagia dan bisa nelihat tak berharganya dunia masa lalunya yang ia katakan : ‘For the first time, I could see my former life with an outsider’s eyes, and I knew I could never go back to that.
Dalam kebahagiaan dan kemuliaan yang tak terbatasi lagi bila masa lalu yang dilihatnya itu adalah kehidupan dunia ini seluruhnya sedangkan sisi dimana posisi dirinya yang melihat masa lalu di dunia itu adalah alam kemuliaan setelah meninggal dunia.

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ   فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ  يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezki,  mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan balasan nilai amal orang-orang yang beriman. (QS. 3/Aali 'Imraan : 169-171)
Kristiane Backer, yang telah menulis sebuah buku tentang perjalanan spiritualnya sendiri, yang diberi judul Dari MTV ke Makkah, percaya bahwa generasi baru modern, Muslim independen bisa bergabung untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah keyakinan yang aku tumbuh di dalamnya - satu yang menghancurkan hak-hak wanita.
Dia berkata: "Aku tahu wanita Muslimah dari lahir yang menjadi kecewa dan memberontak terhadap itu. Ketika Anda menggali lebih dalam, itu bukan iman yang mereka balik melawan, tetapi budaya.
'Aturan seperti menikah dalam sekte atau kasta dan pendidikan yang sama kurang penting bagi anak perempuan, karena mereka harus menikah pula - mana ada yang mengatakan itu dalam Al-Qur'an? Tidak ada.
Walaupun aku tidak setuju dengan sentimen mereka, aku mengagumi dan menghormati wanita yang aku wawancarai untuk bagian ini.
Mereka semua cerdas dan terpelajar, dan telah berpikir panjang dan keras sebelum memilih untuk masuk Islam - dan sekarang merasa penuh semangat tentang agama yang mereka peluk. Selamat buat mereka. Dan selamat buat Lauren Booth. Tapi kata yang menyimpulkan perbedaan antara pengalaman mereka dan pengalamanku - pilihan.
Mungkin kalau aku merasa berada dalam kontrol dan bukan dikontrol, jika aku merasa diberdayakan daripada ditahan, aku masih mempraktikkan agamaku yang aku lahir didalamnya, dan tidak membawa beban rasa bersalah yang aku alami berkenaan menolak keyakinan bapakku
.

Nurussalam96 : Menuju Islam bukanlah konversi dari aturan-aturan yang picik, murahan yang dialami Eve Ahmed sebagai Muslimah dari lahir menuju Muslim yang lebih spiritual dan rasional kemudian selesai. Menjadi Muslim berarti bukanlah memenuhi panggilan kelas sosial, kelas intelektual ataupun kelas spiritual yang lebih bergengsi, mlainkan adalah memenuhi panggilan Allah yang mengundang hamba-Nya yang dikatakan Kristiane untuk menyenangkan Allah.

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan meridhai lagi diridhai-Nya.  Maka masuklah (bergabung) ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89/Al-Fajr : 27-30)

Bukan pula meniti kelas Islam naik ke kelas iman kemudian ke kelas ikhlas, melainkan menyenangkan Allah dengan melaksanakan keislaman, dengan keimanan dan keikhlasan yang didefinisikan Allah :

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) ajaran hidup ini dengan lurus, dan untuk mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah ajaran hidup yang lurus. (QS. 98/Al-Bayyinah : 5)
Menjadi Muslim bukanlah sebatas dari beridentitas agama non Islam menjadi beragama Islam saja tetapi adalah dari menganut standar nilai yang picik menjadi penganut standar bijak arti kehidupan.

No comments:

Post a Comment