Minggu, 24 Juni 2012

Shalat, Prinsip Ketidakzhaliman Terbebas dari Ketidakpastian


Dikutip dari Pengajian Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK. UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang,
disampaikan oleh Ustadz Ali Masrum Al-Mudhoffar, Ahad, 17 Juni 2012

Shalat adalah serangkaian perbuatan berupa gerakan anggota badan dan perkataan dengan syarat dan rukun yang ditentukan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa mengikuti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.
Firman Allah :
Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang menegakkan shalat dan menafkahkan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka,(QS. 2/Al-Baqarah : 1-3)

Pada firman Allah ini shalat tak terlepas dari iman pada yang ghaib.
Shalat sebagaimana pengertian definitifnya tersebut diatas adalah ritus (bersifat ritual).
Segala makna ritual dengan demikian didasarkan pada pokoknya yaitu shalat dengan definisi itu adalah yang tak terlepas dari iman pada yang ghaib.

Informasi, berita, ilmu tentang yang ghaib adalah menyesatkan, zhalim, tidak adil dan kadar serta derajatnya adalah persangkaan
kecuali yang diwahyukan yang berasal dari yang Maha Menguasai yang ghaib dan yang syahadah (tidak ghaib).
Pengetahuan tentang yang ghaib yang haq hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan Allah.



Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (QS. 6/Al-An'aam : 50)

Segala sesuatu yang disebut ritual, dengan demikian, tak terpisah dari syarat dan rukun.
Bila syarat dan rukun terpenuhi ritual menjadi absah dan bila tidak terpenuhi ia tidak sah, batal atau rusak.
Karena itu, ritual tak terlepas dari iman pada yang ghaib. Sedangkan ilmu tentang yang ghaib adalah menyesatkan, zhalim, tidak adil kecuali yang diwahyukan yang berasal dari Allah. Maka otoritas yang haq, legal dan tidak zhalim menentukan syarat dan rukun ritual adalah yang ada pada yang diwahyukan yang berasal dari Allah. Tidak ada otoritas itu pada manusia yang tidak diberi kenabian oleh Allah untuk menerima wahyu.
Pendirian, sikap dan perbuatan manusia tidak ada yang terlepas hubungannya dengan yang ghaib yang mesti dipertanggungjawabkan.
Itulah mengapa, tidak ada jalan lain bagi manusia agar tidak sesat, tidak salah, tidak zhalim dalam hal segala perbuatannya tak terlepas dari masalah yang ghaib, kecuali dengan ditundukkannya segala unsur diri manusia pada ketentuan syarat dan rukun yang ada pada yang diwahyukan yang berasal dari Allah.
Segala unsur diri manusia baik hati, instink/naluri demikian pula akal beserta jalan fikiran dan jalan perasaannya bila tidak ditundukkan sinergik pada ayat-ayat Allah (dalam kitab-kitab Allah dan dalam peristiwa alam) maka adalah derita teradzab sengsara dan ternista hina


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7/Al-A'raaf : 179)

Shalat Bebas dari Siksa Ketidakpastian

Terdapat pertanyaan dari seorang mahasiswa : Ustadz, saya tahu bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Melihat. Kadang-kadang saya merasa, karena Allah sudah lebih mengetahui diri saya dari pada diri saya mengetahui diri saya sendiri, membuat saya malu meminta, bermunajat atau meminta ampun, karena Allah juga tahu saya bermaksiat dan berbuat dosa lagi. Seolah-olah munajat saya hanya angin lalu yang tidak berbekas dalam diri saya. Apakah hati saya ini benar-benar sudah keras dan hampir tertutup. Saya ingin sekali mencintai Allah. Tapi bagaimana caranya, karena saya tidak seperti hamba-hamba Allah yang lain ?

Dijawabnya sebagai berikut :
Shalat adalah munajat. Shalat adalah do'a. Shalat adalah meminta ampun kepada Allah. Karena Allah memerintahkan hambanya untuk shalat, karena Allah memerintahkan untuk meminta ampun pada-Nya, maka taatilah perintah Allah sebagaimana ketaatan hamba Allah yang mengatakan : Aku shalat, aku beristghfar meminta ampun kepada Allah, aku bertaubat akan dosa-dosaku karena Allah memerintahkan, aku tak peduli jalan fikiran dan jalan perasaanku. Apalagi jalan fikiran dan jalan perasaan orang lain.

Terdapat pertanyaan yang lain :
Assalaamu’alaikum.Ustadz, saya mau tanya, kemarin saya bercakap dengan seorang
teman beragama Katholik. Kok dia juga bilang insyaAllah. Katanya di agama dia ada. Kalau begitu, bagaimana Ustadz ?

Dijawabnya pertanyaan itu :
Syaikh Efiaim Bar Nabba Bambang Noorsena, pimpinan Gereja Ortodoks Syria, dalam makalah yang disampaikan pada Syiar Injiliyah di Hotel Surabaya, 19 Juni 1998 mengakui salat dalam Kristen sebenarnya mengikuti salat yang berlaku dalam Yahudi, yaitu tiga kali: petang, pagi, dan tengah hari.
Namun, seperti dimuat Talmud, setelah penghancuran Baitul Maqdis dan eksodus ke Babilonia, ditetapkan satu waktu salat lagi, yaitu jam kesembilan, yang disebut minhah. “Menurut hitungan waktu Yahudi, kira-kira pukul tiga petang. Sejajar dengan waktu asar dalam Islam,” kata Noorseno. Dan, selanjutnya berkembang menjadi tujuh waktu.
Setiap salat terdiri dari tiga rakaat (satuan gerakan). Pada rakaat pertama hanya dilakukan qiyam (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan rukuk, dan sujud. Pada saat rukuk dan sujud ini dilakukan gerakan tanda salib. Dan, doa yang digunakan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani, dan Ibrani. Lalu dibacakan pujian (qari’ah) yang dikutip dari kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al imam, semacam pengakuan kepada Tuhan (syahadat) yang dikenal dalam Gereja Ortodoks.
Sebelum salat ditunaikan, ada semacam azan, panggilan untuk salat. Dalam panggilan salat ini ada kalimat yang mirip dalam Islam, misalnya hanya alashalah (marilah kita salat). Hayya alassalah bisalam (marilah kita salat dengan damai). Dan, sebelum acara salat dilakukan, diawali dengan pembacaan Injil.


Misalkanlah ada orang sembahyang seperti shalat kita, maka yang kita lakukan adalahkepastian sumber dan janji perintah dan larangan Allah dalam ayat-ayat-Nya, kemudian kita jawab perintah dan larangan itu dengan kepastian dari kita yang adanya ada pada ketaatan kita pada ayat-ayat Allah itu

Inilah cara yang ditunjukkan Allah untuk kita mentaati ayat-ayat yang diwahyukan Allah pada Ibrahim, Ya'qub, Dawud, Musa, 'Isa dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Kita tak peduli jalan fikiran & jalan perasaan kita. Apalagi jalan fikiran & jalan perasaan orang lain yang jelas-jelas tidak diberi kenabian oleh Allah dan yang pasti itu digugat oleh Allah dengan pertanyaan-Nya dalam Al-Qur'an, Surat 52/Ath-Thuur : 30 – 43.

Pada ayat-ayat itu, diantaranya Allah mempertanyakan :

Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk (apa yang tak berdasar dari Allah) ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar. (QS : 52:Ath-Thuur : 32-34)

Selamat dari ketidakpastian yang menyiksa dan menista tonggaknya ada pada shalat mentaati Allah. Perintah Allah adalah pasti, sumbernya pasti, janji padanya pasti.
 Dari Abu Al-Haura As-Sa'dy, ia berkata : Aku berkata Hasan bin Ali : Apakah yang engkau menjaganya dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam ?
Hasan bin Ali menjawab : Aku menjaga dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah (apa yang beliau bersabda) : Tinggalkan apa yang meragukan engkau menuju apa yang tidak meragukan engkau, maka sesungguhnya benar itu ketenangan dan sesungguhnya dusta itu kekacauan (tersiksa keguncangan). (HR. At-Tirmidzy)

Tinggalkan ketidakpastian sumber yang tetap saja merupakan perdebatan akal manusia menuju kepastian ayat-ayat Allah, apa yang diperintahkannya.
Tinggalkan ketidakpastian pendapat manusia menuju kepastian ketaatan yang mulia pada ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia dari Dzat yang Mahamulia.
Tinggalkanlah ketidakmulian balik sana balik sininya kemauan nafsu fikiran dan perasaan, tinggalkanlah untuk menuju ketidakraguan ketaatan diri pada ayat-ayat Allah.
Tinggalkan tak bermartabatnya ketidakpastian karena tidak menegakkan shalat menuju kepastian penegakan shalat semata alasan taat pada ayat-ayat Allah dan sunnah kenabian Rasulullah .

Sabtu, 03 Maret 2012

Tongkat Musa, Isra', Api Tak Membakar dan Shalat Dua Raka'at


Seorang peserta Pengajian mengajukan pertanyaan demikian : Saya pernah membaca catatan tentang shalat dua raka'at. Sebelum dibakar oleh rakyat Babilonia di bawah kepemimpinan dan program yang dicanangkan Raja Namrudz di tengah-tengah gunungan bahan bakar kayu yang menyala untuk membakar dirinya, Nabi Ibrahim dikatakan pada catatan itu, melakukan shalat dua raka'at. Tentu dimaksudkan dalam catatan itu, sama halnya Nabi Musa sebelum memukulkan tongkatnya ke laut ketika sedang dalam kejaran Fir'aun dan bala tentaranya, beliau shalat dua raka'at. Sebelum (peristiwa luar biasa) israa' yaitu Rasulullah menempuh perjalanan di malam hari menempuh perjalanan yang jauh dari Masjidil-haram di Makkah ke Amsjid Al-Aqsha di Palestina, bahkan kemudian mi'raj (naik) ke Sidratil-Muntaha, tidak sampai satu malam, beliau melaksanakan shalat dua raka'at. Apakah benar demikian, perlu dilakukan setiap akan melalui urusan yang berat?
Terhadap pertanyaan tersebut baik kiranya dikemukakan sebagai berikut :

Api Tak Membakar Ibrahim


Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". (QS. 21/Al-Anbiyaa' : 69)

Tongkat Musa

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy-(QS. 26/Syu'araa' : 63)


 Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. 2/Al-Baqarah : 60)
 

Israa' :

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil-Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17/Al-Israa' : 1)


Hubungan antara api yang tidak membakar dengan Nabi Ibrahim adalah hubungan ketaatan pada Allah Rabb Semesta alam.
Demikian pula hubungan antara tongkat, batu, air memancar dan air lautan dengan Nabi Musa adalah juga hubungan ketaatan masing-masing makhluk itu pada Allah Rabb semesta alam.

Masing-masing makhluk itu dalam keadaan mentaati Allah Rabb semesta alam. Nabi Ibrahim dan Nabi Musa adalah makhluk manusia yang mentaati hukum, ketentuan dan takdir Allah tentang manusia. Sedangkan api, batu, air dan sebagainya adalah makhluk Allah yang mentaati hukum, ketentuan dan takdir Allah tentang alam, tentang dirinya alam.

Hal yang sama adalah yang ada pada peristiwa Israa' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Hubungan antara Rasulullah dan masing-masing wujud alam yang menyamngkut peristiwa Israa' itu adalah hubungan ketaatan pada Allah Rabb semesta alam.

Demikian pula misalnya shalat dua raka'at sebagaimana dalam hadits berikut ini :

Dari Abdullah bin Abi Aufa Al-Aslamy, ia berkata : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang baginya ada hajat (keperluan) pada Allah atau pada salah seorang dari makhluknya maka hendaklah ia berwudhu dan shalat dua raka'aat, kemudian hendaklah membaca :
Tiada yang hak diibadati kecuali Allah yang Mahasantun lagi Mahamulia. Mahasuci Allah Rabb-nya 'Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Allahumma ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada Engkau dijawabnya (permintaanku akan) rahmat-Mu, dambaanku akan ampunan-Mu, perolehan akan setiap perbuatan bakti, keselamatan dari setiap dosa. Aku memohon kepada Engkau kiranya Engkau tidak membiarkan bagiku ini sesuatu dosapun kecuali Engkau mengampuninya, tidak pula yang membuatku merana kecuali Engkau berikan jalan keluarnya dan tidak pula sesuatu hajat yang adalah bagi-Mu Engkau ridha kecuali Engkau memenuhinya bagiku.

Kemudian ia meminta kepada Allah akan urusan dunia dan akhirat apa yang ia kehendaki, maka sesungguhnya ia akan ditakdirkan (HR. Ibnu Majah)

Apabila shalat dua raka'at sebagaimana riwayat hadits dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tersebut untuk tidak memutus hubungan ketaatan pada sunnah kenabian yang berarti mentaati kitab-kitab Allah dan sunnah kenabian maka ialah shalat dua raka'at mengikuti sunnah kenabian, ialah shalat mentaati ajaran Allah dan Rasul-Nya, ialah merupakan sinergi ketaatan manusia dengan ketaatan malaikat pada hukum Allah tentang malaikat dan ketaatan alam semesta pada hukum Allah tentang alam (hukum alam) bukan hanya sekedar harmoni mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede) saja, bukan pula harmoni antara kerajaan ghaib dan kerajaan manusia. 
Sinergi ketaatan itu tergambarkan sebagai berikut :
Tetapi apabila yang dituju dengan shalat dua raka'at tersebut adalah untuk terjadinya peristiwa luar biasa seperti api yang tidak membakar, tongkat Nabi Musa, israa' dan mi'rajnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam maka adalah mengganti ketaatan pada kitab-kitab Allah dan sunnah kenabian dengan semacam batu Ponari
Maka adalah secara pasti terhempas dari sinergi ketaatan pada hukum Allah masing-masing tentang malaikat, alam semesta dan hukum Allah tentang pri kehidupan diri manusia sebagaimana tergambarkan sebagai berikut :.

Rabu, 18 Januari 2012

Bacaan Ruqyah untuk Orang Sakit

Ruqyah adalah bacaan atau do'a kepada Allah yang diketahui Rasulullah dan beliau tidak melarangnya, atau yang bahkan beliau membacanya untuk memohon perlindungan dan kesembuhan dari sakit

1. Baca Al-Fatihah :
Dari Abu Said al-Khudri radhiyallaahu 'anhu, ia berkata : Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah ssatu kampung dari kampung-kampung Arab dan mereka berharap agar mereka (penduduk kampung itu) mau menerimanya sebagai tamu. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak menerima mereka sebagai tamu. Tetapi mereka ada yang bertanya : Apakah ada di antara anda sekalian ini yang bisa meruqyah? Karena penghulu kampung kami terkena sengat atau mesibah.
Salah seorang dari para Sahabat menjawab : Ya, ada.
Lalu seorang Sahabat menemui penghulu kampung tersebut dan meruqyahnya dengan surah al-Fatihah. Kemudian lelaki penghulu kampung tersebut sembuh. Kemudian Sahabat tersebut diberi sejumlah ekor kambing. Tetapi Sahabat itu enggan menerimanya seraya berkata (mengajukan syarat) : Aku akan menyampaikannya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.  Sahabat itupun (pulang) menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan pengalaman tersebut.
Sahabat itu berkata : Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya meruqyah dengan surah al-Fatihah. Mendengar kata-kata itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda : Tahukah engkau, bahawa al-Fatihah itu memang merupakan  ruqyah.
Kemudian baginda bersabda lagi : Ambillah pemberian dari mereka dan pastikan aku mendapatkan bahagian bersama kalian (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

2. Baca Ayat Kursi


Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata : Aku diberi tugas menjaga kesucian Ramadhan. Kemudian datanglah seseorang seraya mengambil sesauh dua telapak tangan makanan, lalu aku mengambilnya seraya aku katakana : Aku adukan kamu pada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa 'aalihi wa sallam. Kemudian ia menceritakan hadits, lalu berkata : Apabila kamu merebahkan badan di tempat tidurmu bacalah ayat kursi niscaya senantiasa ada penjagaan dari Allah dan syaithan tidak dapat mendekatimu hingga pagi harimu.
Nabi shallallaahu 'alaihi wa 'aalihi wa sallam bersabda : Kebenaran bagimu dan orang tadi banyak dusta itulah perbuatan syaithan (HR. Bukhari)

3. Membaca Surat Al-Ikhlash, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas
Dari Aisyah radhiyallaahu 'nhaa, ia berkata : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa 'aalihi wa sallam biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda membacakan bacaan do'a perlindungan diri. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga membacakan bacaan do'a perlindungan diri bagi baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, karena tangan baginda tentu lebih besar barakahnya daripada tanganku (Bukhari dan Muslim)


Dari Abu Sa'id Al-Barrad, dari Mu'adz bin Abdillah dari Bapaknya. Ia berkata : Kami keluar pada suatu malam dalam keadaan hujan dan gelap yang sangat. Kami menunggu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami.
Abu Mu'adz berkata : Aku mendapati beliau.
Beliau bersabda : Bacalah ! Lalu aku tidak membaca apapun.
Kemudian beliau bersabda : Bacalah !
Aku tidak membaca apapun.
Kemudian beliau bersabda : Bacalah !
Lalu aku bertanya : Apa yang aku baca?
Rasulullah menjawab : Bacalah Qul Huwallaahu 'Ahad dan al-mu'awwidzatain (dua surat memohon perlindungan, yaitu surat Al-Falaq dan surat An-Naas) pada waktu sore dan waktu pagi sebanyak tiga kali cukup bagimu terlindungi dari segala sesuatu (yang membahayakan) (HR. At-Tirmidzy dan An-Nasaa-iy)

 Dari Fadhalah bin 'Ubaid Al-anshari, ia berkata Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengajariku ruqyah dan beliau memerintahkan aku meruqyah dengannya orang yang menyatakan (keluhan sakitnya) padaku. Beliau bersabda : Bacalah!


Allahumma ya Rabb kami. Allah yang Mahasuci Asma-Nya di sekalian langit, amar perintah-Mu (berlaku) di langit dan di bumi.
Allahumma ya Allah, sebagaimana amar perintah-Mu (berlaku) di langit maka jadikanlah rahmat-Mu atas kami di bumi
Allahumma ya Allah, Rabb orang-oroang yang baik, ampunilah kami atas kezhaliman-kezhaliman kami, dosa-dosa kami, kesalahan-kesalahan kami. Dan turunkalah rahmat dari sekalian rahmat-Mu, penyembuhan dari sekalian penyembuhan-Mu atas penyakit yang si Fulan ini keluhkan sehingga ia sehat darinya.

Beliau bersabda : Bacalah itu tiga kali. Dan berlindung dirilah (kepada Allah dengan membaca) al-mu'awwidzatain (dua surat memohon perlindungan, yaitu surat Al-Falaq dan surat An-Naas) tiga kali (HR. Ahmad, dan riwayat senada diriwayatkan dari Fadhalah bin 'Ubaid dari Abu Darda' diriwayatkan oleh Abu Dawud)

4. Membaca dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah :

 Dari Ibnu Mas'ud Al-Badry radhiyallaahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, barangsiapa membacanya di malam hari, ia terpelihara (dari kejahatan) (HR. Al-Bukhari)

4. Membaca ta'aawudz :


Dari Said bi Abi Waqash radhiyallaahu 'anhu ia berkata : Aku mendengar Bibi putri Hakim As-Sulamiyah berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda Barang siapa turun di suatu tempat dan membaca :
 
 (Aku berlindung kepada Allah yang Mahasempurna kalimat-Nya
dari keburukan makhluk yang Dia ciptakan)
Niscaya tidak ada sesuatupun yang membahayakan sampai ia pergi dari tempat itu (HR. Muslim)

5. Membaca Basmalah sbb.

Dari Aban bin 'Utsman radhiyallaahu 'anhu berkata : Aku mendengar 'Utsman bin 'Affan radhiyallaahu 'anhu berkata Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidaklah seorang hamba membaca pada paginya setiap hari dan pada sorenya setiap malam dengan bacaan :

 (Dengan asma Allah yang beserta asma-Nya tak dapat dimudharati
oleh sesuatupun di bumi dan tidak juga di langit.
Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Tiga kali, kecuali tiada sesuatupun yang membahayakannya (HR. At-Turmudzy)

6. Membaca Do'a untuk Si Sakit :

Dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhaa, ia berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila mendatangi orang sakit, beliau berdo'a : Hilangkanlah sakit ini, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan Engkau dengan kesembuhan yang tiada meninggalkan penyakit (HR Ibnu Maajah)


Dari Abdul Aziz bin Shuhaib, ia berkata : Aku dan Tsabit Al-Bunany datang kepada Anas bin Malik.
Kemudian Tsabit berkata : Wahai Abu Hamzah, aku ada keluhan sakit.
Lalu Anas berkata : Maukah aku ruqyah engkau dengan ruqyah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Tsabit menjawab : Ya, mau.
Kemudian Anas bin Malik membaca do'a :

Allaahumma ya Allah, Rabb manusia yang Mahakuasa menghilangkan(HR. At-Turmudzy)

Sabtu, 07 Januari 2012

Sunnatullah


Disampaikan pada Kajian Ramadhan 1428 H/2007 M UDIKLAT PLN Semarang


Pengertian sunnatullah dimaksudkan adalah ketentuan Allah. Ketentuan Allah juga dikenal sebagai taqdir Allah dan hukum Allah. Ada juga ketentuan Allah yang dikenal sebagai qadla'

QADHA' :
Qadha' adalah kehendak terjadinya suatu kejadian yang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum manjadi peristiwa kejadian :

مَاأصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِى كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَالِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ 
Tiada suatu musibahpun yang terjadi di bumi atau yang langsung menimpa dirimu sendiri, melainkan sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum musibah itu Kami tentukan terjadi. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah (QS.57/Al-Hadid : 22)

TAQDIR  :
1.      Taqdir : Ketentuan Allah yang Mahaawal lagi Mahaakhir. Sifat taqdir Allah/sunnatullah adalah :
-          Kepastian.
-          Keteraturan
-          Sinergi

2.      Taqdir Allah pada Malaikat : Akurasi Ketundukan Sempurna.
Ketentuan-ketentuan Allah yang berlaku bagi malaikat, secara akurat sempurna dilaksanakan malaikat, beribadah, bertasbih dan memahasucikan Allah.
وَلَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانْتُوْنَ
Dan kepnyaan Dialah semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, semuanya taat dan patuh kepada-Nya. (30/Ar-Ruum : 26)

3.      Takdir Allah pada Alam (Sunnatullah tentang alam) : Akurasi Ketundukan Positif.
Taqdir Allah pada alam berupa sunnatullah (hukum Allah) yaitu ketentuan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa tentang alam yang dapat dibaca ayat-ayat-Nya (tanda-tandanya) pada ketundukan alam pada ketentuan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa itu.
خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِى ِلأَجَلٍ مُسَمًّى أَلاَهُوَالْعَزِيْزُ الْعغَفَّارُ
Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia melingkupkan malam atas siang dan melingkupkan siang atas malam. Dia menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada kadar waktu yang telah ditentukan. Ingatlah ! Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. 39/Az-Zumar : 5)
وَالشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذاَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
 Dan matahari bergerak pada garis edarnya. Demikian itu taqdir Allah yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui(QS. 36: Yaasiin Ayat : 38)
وَالْقَمَرَ قدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقديْمِ
Dan bulan Kami taqdirkan pula tempat-tempat edarnya. Sehingga manakala ia sampai ke tempat edar yang terakhir, ia kembali mengecil, melengkung seperti tandan tua (QS. 36: Yaasiin Ayat : 37)
لاَالشَّمْسُ يَنْبَغِى لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلاَ اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِوَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُوْنَ
Tidak mungkin matahari mencuri langkah mencapai kecepatan bulan, dan tanda-tanda malampun tidak dapat mendahului tanda-tanda siang. Masing-masing pada garis edarnya bertasbih (QS. 36: Yaasiin Ayat : 39)

Bertasbihnya alam sebagaimana matahari bergerak pada garis edarnya adalah ketundukan akurat pada ketentuan taqdir (sunnatullah) tentang alam. Ketundukan alam sedemikian itulah akurasi ketundukan positif pada taqdir Allah. Itu pula shalatnya alam kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.
ثُمَّ اسْتَوَىإِلَى السَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِْلأَرْضِ ائْتِيَاطَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أًتَيْنَاطَآئِعِيْنَ
Kemudian Dia menyempurnakan penciptaan langit, ketika itu masih merupakan gas seperti awan. Lalu Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman kepadanya dan kepada bumi sekaligus : "Datanglah kalian keduanya baik dengan jalan taat maupun dalam keadaan terpaksa" Keduanya menjawab : "Kami datang dengan taat" (QS. 41/Fushshilat : 11)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِى السَّماوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَآفَّاتٍ كُلُّ قَدْ عَلِمَ صَلاَتَهُ وَتَسْبِيْحَهُ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِمَايَفْعَلُوْنَ
Apakah kau tidak (mau) tahu bahwasanya Allahlah yang pada-Nya segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih memahasucikan. Juga burung-burung dengan mengembangkan sayapnya di udara. Masing-masingnya sungguh tahu shalat dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS/24 : An-Nuur : 41)

4.      Taqdir Allah pada Manusia (Sunnatullah Tentang Manusia )
Taqdir Allah pada manusia adalah ketentuan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa yang berlaku bagi manusia, yaitu syari'ah dan minhaj.
Syari'ah adalah taqdir berupa sunnatullah (hukum Allah) yaitu ketentuan universal Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa tentang manusia berkenaan dengan potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan itu misalnya : fungsi berkeyakinan, memerankan kesadaran, fungsi berfikir, memerankan spirtualitas, berperasaan, bermoralitas dan fungsi berkultur social.
Minhaj adalah adalah taqdir berupa sunnatullah (hukum Allah) yaitu ketentuan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa tentang manusia berkenaan dengan cara menggunakan potensi kemanusiaannya.
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَ مِنْهَاجًا
Untuk tiap-tiap diantaramu, Kami telah berikan system syari'ah dan manhaj cara hidup yang benar (QS. 5/Al-Maa-idah 48).
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأعْلَى  الَّذِى خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِى قَدَّرَ فَهَدَى
Sucikanlah asma Rabb-mu yang Mahatinggi, yang menciptakan segalanya, lalu disempurnakanNya, menentukan taqdir (kadar) dan fungsi masing-masing lalu memberikan hidayah (petunjuk) cara menggunakannya (QS. 87/Al-A'laa : 1-3)

Pada taqdir Allah yang merupakan ketentuan-ketentuan Allah tentang malaikat, alam dan manusia itu di antara manusia terdapat beberapa akurasi ketundukan :

a.       Akurasi ketundukan positif
Akurasi ketundukan positif manusia pada taqdir (sunnatullah) tentang 'manusia' dirinya yaitu syari'ah ber-Qur'an dan minhaj memegangi sunnah Rasulullah shallallaahu 'laihi wa aalihi wa sallam inilah yeng bersinergi dengan akurasi ketundukan positif alam pada taqdir Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa dimana pada akurasi ketundukan itu alam semesta terjaga eksis tidak terjadi kehancuran. Seberapa besarkah kekuatan akurasi ketundukan itu sehingga alam semesta tetap terjaga eksis? Subhaanallaah wal-hamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar.

b.      Akurasi ketundukan negative
Akurasi ketundukan negative adalah ketundukan manusia pada taqdir (ketentuan-ketentuan) Allah yaitu dalam hal bersyariah Qur'ani dan bermanhaj memegangi sunnah Rasulullaah shallallaahu 'alihi wa aalihi wa sallam (Manhaj nubuwwah) ia melanggar batas, menyimpang atau menjalankan cara berma'shiyat. Dalam keadaan ma'shiyat sedemikian itu ia berada di luar sinergi kekuatan bersama akurasi ketundukan positif sempurna para malaikat dan akurasi ketundukan alam semesta. Ia hanya bersinergi dengan akurasi ketundukan negative syaithan. Ketika itulah yang sebagaimana difirmankan Allah : ……..telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan manusia (QS. 30/Ar-Ruum : 41)

c.       Akurasi ketundukan negatif syaithan.
Akurasi ketundukan negative syaithan yaitu ketika manusia melanggar batas, menyimpang dari atau menjalankan cara berma'shiyat  terhadap syari'at Allah dan manhaj kenabian dengan sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa aalihi wa sallam. Tidak hanya terjadi kema'shiyatan pada lingkup diri sendiri, tetapi lebih dari itu kema'shiyatannya ada kekuatan pengaruh pada orang lain untuk berbuat ma'shiyat sehingga menjadi berkekuatan arus kultur. Sifat akurasi ketundukan negatif atau ma'shiyat menjadi syaithaniyah yang karakteristiknya antara lain :

-          dilatarbelakangi oleh kesombongan dan keengganan
-          kema'shiyatan dilakukan karena komitmen menolak kebenaran syari'ah ber-Qur'an dan manhaj mengikuti sunnah Nabi. Tidak termasuk dalam karakteristik ini perbuatan ma'shiyat yang dilakukan dengan penyesalan dan tetap mengakui kebenaran syari'ah ber-Qur'an dan manhaj mengikuti sunnah Nabi.
-          kema'shiyatan yang dilakukan yang mempengaruhi orang lain sehingga mendorong yang melakukan ma'shiyat lebih banyak.

d.      Akurasi ketundukan positif plus = Ihsan
Dalam pengertian ihsan yaitu memberi lebih dari kewajiban dan atau menerima kurang dari hak disinilah terjadi akurasi ketundukan positif plus. Ihsan yang terjadi apabila kewajiban yang dilebihi dengan ekstra kewajiban itu adalah kewajiban pada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa maka ia adalah nilai plus bagi dirinya sendiri. Apabila hak diterima sebagaimana semestinya dan kewajiban dilaksanakan sebagaimana semestinya bisa dikatakan hidupnya pas-pasan. Tetapi apabila hak yang diambil melebihi semestinya dan kewajiban yang ditunaikan kurang dari semestinya maka ialah yang dikatakan merugi menuju akumulasi kebangkrutan. Di dunia tidak mempunyai deposit kebikan pada orang lain demikian pula kelak di akhirat ia tidak mempunyai saldo kebaikan bagi dirinya sendiri.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ ِلأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
Jika kalian berbuat ihsan, berarti kalian telah berbuat ihsan untuk diri kalian sendiri, sebaliknya jika kalian berbuat keburukan maka implikasi kerusakannya kalian pikul sendiri (QS. 17/Al-Israa' : 7)

Orang yang berbuat ihsan ia berada dalam rahmat kasih sayang Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berlaku ihsan (QS. 7/Al-A'raaf : 56 )

Orang-orang yang dirahmati Allah itu berbuat ihsan. Ialah yang tetap bermujahadah menyempurnakan sifat kehambaan dirinya di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa dalam keadaan diketahui orang lain ataupun tidak. Tetap istiqamah dengan imannya. Kalaupun ia tak melihat Allah maka ia tetap istiqamah sadar akan pengawasan-Nya.

Pada orang yang ihsan kekuatan akurasi ketundukan positif sempurna yang ada pada para malaikat akan didukungkan solidaritasnya pada hamba Allah itu. Ini selebih dari sumberdaya sinergi kekuatan akurasi ketundukan positif alam semesta raya.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya mereka yang berkata : Rabb kami Dialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka mengucapkan selamat : "Jangan takut jangan berduka cita. Bebrbahagialah dengan memperoleh al-Jannah yang telah dijanjikan kepadamu" (QS.41/Fushshilat : 30)

BULAN SUCI DIBAWAH KAKI ZIONIS

Disampaikan pada : Forum Kajian AT-TAUBAH Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK. UNDIP/RSUP Dr. Kariadi Semarang, Ahad 23 November 20...